The Gold Habbit : Husnudzon

The Gold Habbit : Husnudzon

The Gold Habbit : Husnudzon

Oleh: Abdul Aziz Fikri

Apa kabar kawan-kawan? Semoga kamu dalam keadaan baik dan selalu mengerjakan kebajikan. Pernahkah anda merasa tidak tenang dalam menjalani hidup didunia ini? seakan-akan hal yang buruk selalu akan menimpa kehidupan kita, baik dari kesalahan diri sendiri maupun disebabkan oleh orang lain. Salah satu penyebab timbul perasaan tersebut adalah akibat prasangka diri yang cenderung negative atau di dalam Islam sendiri biasa disebut suudzon. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang bagaimana menyikapi sikap yang menurut saya sendiri sangatlah toxic, tidak ada yang di untungkan dalam sikap ini baik bagi dirimu maupun orang lain.

As-Syekh al-Imam Sufyan ats-Tsauri menjelaskan ada dua jenis prasangka, yakni berdosa dan tidak berdosa.  Prasangka yang berdosa, tutur ats-Tasuri,  jika seseorang berprasangka dan mengucapkannya kepada orang lain.  Sedangkan,  yang tak berdosa adalah  prasangka yang tidak diucapkan atau disebarkan kepada orang lain.

Suudzan (berburuk sangka) adalah sebab datangnya perasaan tidak tenang dalam hidup kita, sebab suudzan adalah buah dari fikiran yang negative, sedangkan orang yang selalu berpikir positif hidupnya akan menjadi terasa aman dan damai, sebab mereka menganggap segala kejadian yang menimpa dirinya merupakan hal baik. Berbeda dengan suudzan (berburuk sangka), hidupanya akan ditemani dengan rasa cemas.

Allah swt berfirman dalam surat Al-Hujuraat ayat 12: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah di antara kamu mengunjing orang lain. Apakah ada sebagian kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat Lagi Maha Penyayang.”

Rasulullah SAW  juga senantiasa mengajarkan kepada umatnya agar selalu berprasangka baik, baik terhadap diri sendiri, maupun orang lain, Rasulullah SAW juga menjelaskan dalam sebuah hadits yang artinya “Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Jauhkanlah dirimu dari prasangka buruk karena sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling bohong.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dari hadits diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa Rasulullah SAW sangat tidak menganjurkan untuk berprasangka yang tidak baik, bahkan kebanyakan prasangka itu adalah tidak benar. Memang didalam kehidupan, berprasangka adalah hal yang tidak mungkin dihindari, akan tetapi prasangka itu akan bernilai baik, apabila selalu di isi dengan prasangka yang baik, atau biasa kita kenal dengan istilah “husnudzan”.

Prasangka yang baik, akan membuahkan yang sesuatu yang baik, begitu pula sebaliknya, walaupun di sebutkan dalam hadits di atas bahwa prasangka itu tidak mutlak kebenarannya,  Rasulullah SAW bersabda, dalam sebuah hadits qudsi,Dari Abu Hurairah R.A, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah SWT berfirman : Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Mutafaqqun alaih)

Ada sebuah kisah, pada suatu hari, ada segerombolan perampok yang kerjaan mereka adalah merampok kafilah yang lewat. setelah mendapatkan hasil rampokan, mereka pun mencari tempat istirahat. Tibalah mereka di sebuah rumah dan berkat kepada pemilik rumah : “Kami adalah rombongan yang akan berjihad di jalan Allah, kami kemalaman dan bermaksud menginap di rumahmu”.

Pemilik rumah bergegas membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Ia melayani mereka dengan baik. Hal itu semata-mata adalah untuk memuliakan tamu dan mengharapkan berkah dari allah melalui tamunya itu. Pemilik rumah memiliki istri, dan seorang anak laki-laki yang kakinya dalam keadan lumpuh.

Setelah menjamu rombongan tadi, ia membereskan sisa jamuan dan sisa air tadi dan berkata kepada istrinya “ basuhlah kedua kaki anak kita dengan air tersebut, siapa tahu ia disembuhkan, berkat tamu-tamu kita yang berjuang dijalan allah”.istri pun menjalani perntah yang diperintahkan suaminya.

Keesokan harinya, para perampok tadi keluar rumah untuk berkerja lagi dan sore harinya mereka memutuskan untuk kembali kerumah tersebut. Ketika mereka masuk, mereka heran melihat anak si pemilik rumah yang lumpuh itu, kini dapat berjalan dan berdiri tegak, mereka pun bertanya “ Apakah itu adalah anakmu yang kemaren dalam keadaan lumpuh?” pemilik rumah menjawab “Ya, kemarin aku mengambil sisa-sisa air dari bekas kalian dan kubasuhkan kekaki anakku, atas izin Allah, anakku sembuh dari lumpuh berkat para tamu yang berjihad di jalan Allah SWT”.

Mendengan penjelasan pemilik rumah, para perampok tadi menangis, dan berkata “Ketahuilah, bahwa kami bukanlah orang yang berjihad, bahkan kami adalah perampok yang mengganggu kafilah yang lewat didaerah ini” lanjutnya “kami menangis, karena walaupun kami perampok, Allah tetap memberikan keberkahan kepada kami dan menyembuhkan anakmu, dengan keikhlasan niatmu menjamu kami dan prasangka baikmu(husnudzan) terhadap kami, sekarang kami bertaubat” Maka bertobatlah para perampok tersebut. Dan sejak saat itu mereka berjihad di jalan Allah sampai meninggal dunia.

Dari kisah tersebut dapat kita ambil hikmah, bahwa keberkahan dari mengamalkan husnudzan sangatlah besar, bahkan berprasangka terhadap orang yang jahat sekalipun. Dengan mengamalkan sikap husnudzan, hati akan merasa tenang, karena apabila seseorang sudah dapat mengamalkan husnudzan, maka yang ada dalam kehidupannya hanyalah kebaikan.

Husnudzan adalah sikap yang tidak mudah, akan tetapi jika kita mengamalkannya terus menerus, maka sudah barang tentu hal itu akan terasa mudah, “bisa karna biasa, biasa karna dipaksa”, barangkali kata-kata itu yang dapat memotivasi kita untuk berusaha membiasakan bersikap husnudzan

Untuk memulai membiasakan diri bersikap husnudzan adalah dimulai dari husnudzan terhadap diri sendiri, sebab ada pepatah yang mengatakan “Akar berprasangka buruk terhadap orang lain adalah berprasangka buruk terhadap diri sendiri” dan begitupun sebaliknya “Akar berprasangka baik trhadaporang lain adalah berprasangka baik terhadap diri sendiri”.

Semoga kita dapat menumbuhkan sikap husnudzon dalam diri kita, agar kita dapat menjalani hidup dengan tenang, damai, tentram, didalam jalan Allah SWT dan mengamalkan sunnah Rasulullah SAW.

Tags

Comments - 1

Avatar

normq

maasyaallah😍

Agustus 5, 2020 9:07 pm Reply

Add Comment

Your email is safe with us.

Sign In Infopelajar.id

or

Account details will be confirmed via email.

Reset Your Password