Mengenang Ustadz Hasbullah (1995-2020)

Mengenang Ustadz Hasbullah (1995-2020)

Oleh: Prof. Dr. H. Mujiburrahman, M. A.

Di Pesantren Al-Falah, kami memanggilnya โ€˜Ustadz Hasbullahโ€™. Nama lengkapnya, Drs. Hasbullah Bakry, M.Pd.I. Namanya memang mencerminkan orangnya. Dalam Bahasa Arab, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ขฬ‚๐˜ฉ bisa berarti โ€˜cukup dengan Allahโ€™ atau โ€˜Allah yang mencukupiโ€™, suatu ungkapan yang menunjukkan kekayaan dan kekuatan batin karena secara penuh bersandar kepada Allah. Hidupnya yang sederhana, mensyukuri apa yang ada dengan gembira, menunjukkan bahwa ia memiliki kualitas batin yang demikian. Tutur katanya pun lembut, tidak banyak bicara tetapi murah senyum dan kami para santrinya tak pernah melihatnya marah.

Selain itu, di depan dan belakang namanya ada gelar sarjana. Gelar doktorandus diperolehnya dari Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari, sekitar awal 1980-an. Ini membuatnya salah satu dari sedikit ustadz Al-Falah generasi awal yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi modern. Tidak seperti kebanyakan sarjana IAIN yang lebih memilih menjadi pegawai negeri (yang sangat mudah didapatkan ketika itu karena belum banyak saingan), Hasbullah muda justru dengan mantap memilih untuk mengabdi sebagai pendidik di sebuah pesantren yang belum lama berdiri. Karena itu, kehadirannya mengisi sisi lain, yang katakanlah sejenis alam pikir modern, bagi kurikulum pesantren kami yang sangat tradisional. Ia membimbing kami membaca teks-teks modern seperti ๐˜๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ญ-๐˜›๐˜ข๐˜ด๐˜บ๐˜ณ๐˜ชฬ‚โ€™ ๐˜ธ๐˜ข ๐˜๐˜ข๐˜ญ๐˜ด๐˜ข๐˜ง๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ dan ๐˜›๐˜ขฬ‚๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฉ ๐˜›๐˜ข๐˜ด๐˜บ๐˜ณ๐˜ชฬ‚โ€™. Dia juga mengajarkan teks yang cukup berat bagi kami, yaitu ๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ขฬ‚๐˜ฃ ๐˜ข๐˜ญ-๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ต๐˜ด๐˜ช ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ข๐˜ญ-๐˜”๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ขฬ‚๐˜ป๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ, semacam etika berdiskusi yang banyak mengandung terminologi Logika.

Sebagai pengajar, ust. Hasbullah orangnya serius, tetapi bisa tiba-tiba melontarkan humor yang tak terduga sehingga pecahlah tawa. Biasanya, ia membacakan teks dan menerjemahkannya terlebih dahulu, kemudian disusul penjelasan maksud keseluruhan setiap baris atau paragrap. Contoh-contoh yang diberikannya juga terasa aktual. Wawasannya luas karena dia memang kutu buku. Bukan kebetulan jika ia ditugaskan menjaga perpustakaan pondok yang tidak terlalu besar, tapi lumayan koleksinya. Saya sendiri kadang meminjam buku atau kitab di situ, yang dilayani langsung oleh ust. Hasbullah. Di perpustakaan itulah pertama kali saya menemukan ๐˜ข๐˜ญ-๐˜”๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฒ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ป ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ญ-๐˜‹๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ขฬ‚๐˜ญ dan ๐˜ˆ๐˜บ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ญ-๐˜ž๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฅ, dua risalah tasawuf al-Ghazali, yang saya baca sampai tamat.

Selain punya gelar โ€˜Drsโ€™, beliau juga bergelar โ€˜M.Pd.Iโ€™ yang didapatkannya dari IAIN Antasari kira-kira pada dasawarsa pertama abad ke-21 ini. Beliau kuliah S-2 setelah bertahun-tahun mengajar di Al-Falah, dan sempat menjabat sebagai Ketua STAI Al-Falah (2003-2005). Hari itu, hari pertama saya masuk mengajar Filsafat Ilmu untuk mahasiswa S-2. Betapa terkejutnya saya, ust. Hasbullah ada di kelas saya! Saya serba salah, tetapi beliau sangat rendah hati. โ€œSTAI Al-Falah membutuhkan dosen S-2, jadi saya kuliah lagi,โ€ katanya. Rasa tak enak di hati saya itu terobati karena pada waktu itu beliau mendapat tugas mendampingi jemaah haji, sehingga tidak terlalu banyak hadir di kelas. Kerendahan hati beliau ditunjukkan pula ketika saya mencium tangannya saat bersalaman di depan umum, beliau menariknya. Namun, ketika saya bertemu di pondok, beliau dengan ramah membiarkan saya mencium tangannya.

Kepribadian ust. Hasbullah laksana keseimbangan Yin dan Yang, sehingga ia tampak sangat mampu mengendalikan diri dan tidak mau terlibat konflik. Ajaran keseimbangan ini kadang disampaikannya dengan contoh sederhana. Kalau di rumah, ayah marah kepada anak, maka setelah itu ibu yang akan menenangkan. Jika di Al-Falah ada murabbi H. Ahmad Kusasi, BA yang tegas dan keras, maka di sisi lain ada Habib Abdullah yang lembut. Keduanya perlu bagi pendidikan kita agar seimbang, tidak berat sebelah. Begitulah ust. Hasbullah mencontohkan keseimbangan.

Suatu hari, saya bertemu beliau di STAI Al-Falah. Kami ngobrol kesana kemari, mengenang masa lalu, termasuk tokoh pendiri Al-Falah, Tuan Guru Haji Muhammad Sani. Waktu itu saya katakan pada ust. Hasbullah, sudah selayaknya biografi Guru Muhammad Sani ditulis, mumpung orang-orang dekat beliau masih ada yang hidup. Belakangan, saya ketahui, ust. Hasbullah sendiri yang menulis birografi itu, yang ditulis cukup singkat tetapi padat. Pada haul Guru Muhammad Sani, biografi ini biasanya dibacakan, semula oleh ust. Hasbullah sendiri, tetapi belakangan oleh yang lain. Pada 2014, biografi ini, yang diberi judul ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฃ ๐˜’.๐˜. ๐˜”๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฅ ๐˜š๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช, diterbitkan oleh (alm.) Mujahid, seorang alumni Al-Falah yang mengelola penerbitan Sahabat di Kandangan.

Demikianlah, waktu berlalu begitu cepat. Sekitar 45 tahun, ust. Hasbullah mengabdi dan mendidik santri-santri Al-Falah, putera dan puteri. Beliau bahkan pernah menjadi pengasuh Al-Falah puteri cukup lama (2005-2014). Pada 9 September 2020 kemarin, beliau telah meninggalkan kita. Dia telah meninggalkan jejak-jejak mulia, yang terus dikenang oleh ribuan santrinya. Selamat jalan guru kami.

Sumber: FB

Tags

Add Comment

Your email is safe with us.

Sign In Infopelajar.id

or

Account details will be confirmed via email.

Reset Your Password