Memberdayakan Pendidikan Islam

Memberdayakan Pendidikan Islam

Oleh Jahratun Nufuz Nazmah

Pendidikan Islam tertinggal karena penyempitan pemahaman bahwa aspek kehidupan akhirat yang terpisah dengan kehidupan dunia, atau aspek kehidupan rohani yang terpisah dengan kehidupan jasmani, agama dan bukan agama, yang sakral dengan yang profan, antara dunia dan akhirat. Cara pandang ini disebut sebagai cara pandang dikotomis. Hingga kini pendidikan Islam masih memisahkan antara akal dan wahyu, pikir dan zikir, yang menyebabkan adanya ketidakseimbangan pola fikir, yaitu kurang berkembangnya konsep humanisme religius dalam dunia pendidikan Islam , karena pendidikan Islam lebih berorientasi pada konsep ‘abdullah (manusia sebagai hamba), ketimbang sebagai konsep khalifatullah (manusia sebagai khalifah Allah).

Pada tataran praktis di lembaga pendidikan, pendidikan Islam dihadapkan pada 4 masalah pokok, yaitu alokasi waktu belajar sangat minim, kurikulum yang tidak berkembang, pembelajaran yang monoton, kurang perhatian dan sumberdaya pendukung. Yang terjadi kemudian, pendidikan Islam hanya dipandang sebagai pelengkap, hanya sekedar menggugurkan kewajiban amanat undang-undang. Dianggap penting, tetapi bukan prioritas kepentingan.

Memisahkan antara dunia dan akhirat, kehidupan dunia dan agama, menganggap urusan agama dan pendidikan Islam sebagai pengalaman pribadi adalah paham sekuler. Jarang ada orang mau mengakui dengan jujur, sistem pendidikan kita adalah sistem yang sekular-materialistik. Biasanya yang dijadikan argumentasi, adalah UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab II Pasal 3 yang berbunyi, “Pendidikan nasional bertujuan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.”

Dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan Islam dan pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomi semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia yang berkepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi.

Penyelesaian problem utama ini diawali dari perubahan paradigma pendidikan sekular menjadi paradigma Islam , merumuskan “kerangka dasar filosofis pendidikan” yang sesuai dengan ajaran Islam , kemudian mengembangkan secara “empiris prinsip-prinsip” yang mendasari terlaksananya dalam konteks lingkungan (sosio dan kultural) Filsafat Integralisme adalah bagian dari filsafat Islam yang menjadi alternatif dari pandangan holistik yang berkembang pada era postmodern di kalangan masyarakat barat.

Tags

Add Comment

Your email is safe with us.

Sign In Infopelajar.id

or

Account details will be confirmed via email.

Reset Your Password