Masuk Al-Azhar lewat Jalur Khusus (Part 1)

Masuk Al-Azhar lewat Jalur Khusus (Part 1)

          Ini adalah kisahku, berawal dari mimpiku sejak SD untuk bisa menuntut ilmu di Al-Azhar Asy-Syarif, nama tersbut saya ketahui karena menonton film ayat-ayat cinta. Mimpi itu tersu berkembang, namun keinginan saya tidak sejalan dengan ibu saya, namun sering saya merayunya dengan menceritakan tentang belajar di sana.

 Pada tahun 2017 saya lulus dari salah satu sekolah favorit disalah satu kota di Jawa Timur, pada saat wisuda saya pun mendapatkan tiga penghargaan, Juara 1 Nilai UN Jurusan IPS, Juara 2 Nilai Madrasah, dan Juara 5 Nilai IP pada program setara D-1 kerjasama dengan ITS Surabaya.

          Pada pertengahan kelas 12 saya pun mendapat tiket Jalur SNMPTN, saat itu saya mendaftar di Universitas Indonesia dengan  jurusan yang tidak terlalu tinggi passing grade nya, saya memilih Prodi Ilmu Ekonomi dan Sastra Arab, pada pilihan ketiga saya isi dengan Prodi Ekonomi UNAIR Surabaya , qadarullah saya tidak lulus. Dilihat dari segi penghitungan yang dilakukan oleh salah satu lembaga kursus yang sangat masyhur, bahwa nilai saya termasuk diatas rata-rata dengan kemungkinan lolos 90 %, apalagi pada waktu itu saya sertakan 3 sertifikat juara Nasional dan provinsi. Dan teman sekelasku waktu itu dengan nilainya yang juga termasuk bagus, ternyata ia lulus, padahal ia memilih prodi yang lebih tinggi dibandingkan punya saya, saya pun heran dengan hasil yang demikian. Ah, sudahlah. Semua atas kehendak Allah SWT.

Pada waktu itu saya juga ikut jalur SPAN, yaitu jalur masuk UIN atau IAIN dengan nilai sekolah artinya tanpa tes, saya pun lulus pada prodi Bahasa dan Sastra Arab di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, namun saya belum merasa puas dengan hasil tersebut.

          Pada saat itu juga saya mendaftar di Politeknik Keuangan Negara STAN karena dari segi pekerjaan bisa dibilang mapan, dan tentunya memiliki masa depan yang lebih cerah, sampai pada tahap ketiga saya pun mundur dan memilih untuk tidak melanjutkan ke tahap berikutnya.

          Nah, karena ambisi ingin mendapat kampus yang terbaik dan rasa gengsi bila tidak sepadan dengan penghargaan yang selama ini saya dapatkan sewaktu di Madrasah, saya sering ikut kompetesi, mulai dari Pidato Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Ekonomi dan Akuntansi. Dari itu semua, ada kenangan terakhir yaitu kompetisi International Accounting Week 2017 di Jogjakarta dan Alhamdulillah mendapat juara 3.

          Dengan demikian saya pun daftar SBMPTN, dan saat itu saya ikut tes di Surabaya dengan pilihan prodi Ekonomi Islam UNAIR Surabaya, alhamdulillah kali ini lulus.

          Pada waktu itu saya juga ingin ikut tes Al-Azhar lewat jalur kemenag, yang pada waktu itu masih diselenggarakan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, tetapi karena keadaan dan kemampuan bahasa Arab yang tidak memadai, akhirnya hal itu hanya angan-angan semata.

          Kita tahu bahwa Allah itu Maha membolak-balikkan hati manusia, dari semua nikmat yang Allah berikan itu, saya merasa belum puas. Entah bagaimana ceritanya, saya pun membaca ada beasiswa di Universitas Indonesia dengan jalur Tahfidz, akhirnya saya menghubungi nomor yang tertera di halaman tersebut. Sampai suatu saat, saya meminta kepada salah satu teman untuk menemaniku tes di Semarang, alhamdulillah sedikit jalanku menuju UI dibuka oleh Allah SWT.

          Setelah dinyatakan lolos, saya pun datang kembali ke markaz tersebut, dan entah apa yang menggoncang diriku, sampai saya pun terpikat dengan tawaran menghafal alquran 10 bulan, dan kegiatan yang dilakukan hanyalah menghafal dan murajaah. Saya pikir sanggup dengan waktu 10 bulan, jika hanya menghafal sambil murajaah tanpa ada kegiatan lainnya. Dengan pertimbangan bahwa saat itu saya mampu menghafal 5 juz dalam waktu sekitar 1 bulan, dan juga saya pernah menghafal teks bahasa arab dalam waktu yang singkat.

          Namun, gocangan dalam jiwa ini selalu muncul, apalagi disaat diri ini mendengar isu tentang program markaz tersebut yang saya kurang setuju, dan mungkin ada pemikiran-pemikiran yang tidak sejalan dengan pemikiran saya, pada suatu ketika saya dan beberapa temanku pergi mencari pesantren tahfidz lainnya, sampai kami pergi ke Pesantren Mbah Arwani Kudus, tapi ternyata pendaftaran sudah tutup, dan kami diarahkan pada pesantren satunya, namun hal tersebut tidak mampu meyakinkan diri saya.

          Pada akhirnya, kami kembali ke pangkuan markaz, dan melanjutkan hafalan di sana, hingga kami dipindahkan pada tempat yang lebih nyaman untuk menghafal, yaitu pesantren yang diasuh oleh saudaranya. Selang beberapa bulan, ternyata saya dan salah satu teman selesai pada waktu yang hampir bersamaan, yaitu akhir desember 2017.

          Pada akhir tahun 2017 saya mendaftar di Universitas Islam Madinah, Ummul Qura Makkah, King Saud Riyadh, dan King Abdul Aziz Jeddah. Saya pun optimis untuk diterima di sana, entah kenapa tidak ada satupun yang lolos, padahal kalau dilihat dari segi nilai, mestinya lolos. Lagi-lagi saya harus meyakini kalau Allah punya rencana yang lebih indah.

          Disaat itu saya mencoba mencetak beberapa soal tes Al-Azhar yang diadakan oleh Kemenag, serta ada satu buku yang ditulis oleh Ustadz Ahmad Yani, ia adalah salah satu mahasiswa di Al-Azhar. Saya mempelajari soal-soal tersebut dan ternyata tidak terlalu sulit, tapi dibagian nahwu saya pun masih belepotan, membedakan amalnya kana dan inna aja masih bingung, apalagi waktu itu pernah ditanya oleh salah satu teman tentang apa itu kalam,  saya pun gak tahu, dan dengan keadaan yang begini saya mau ikut tes kemenag.

          Setelah selesai dari pesantren tersebut, saya pulang dan dirumah hanya sekitar satu bulan, kemudian saya pergi ke daerah Kendal Jawa Tengah untuk ikut program murajaah. Dan saya ambil 3 minggu, selama itu saya mendapat 6 juz yang lancar sekali duduk, sebab di sana bukan murajaah, tapi malah ikut nyimak setoran baru. Dan setelah selesai dari sana, saya pergi ke Surabaya untuk ikut seminar kuliah di Universitas Islam Madinah.

Setelah  itu, saya pulang dan merasa bingung dengan ujian kemenag, apakah saya mampu mengerjakan soalnya, apalagi pada tahun 2018 jumlah peserta mencapai 9700 orang. Sedangkan saya ini tidak punya kemampuan yang baik dalam bahasa Arab, saya pun mendapatkan salah satu mediator yang mengadakan kursus selama 5 hari, dan langsung diantar tes di UIN Syarif Hidayatulah Jakarta. Saat itu, saya berusaha untuk menghafal jawaban soal tahun-tahun sebelumnya, dan menghafal essay yang sudah siapkan.

Ada satu hal yang paling saya ingat adalah pertanyaan salah satu penguji pada ujian lisan, Beliau bertanya,: ”mengapa kamu tidak memilih belajar ke China?” saat itu saya bingung  menjawabnya, hanya saya jawab karena dimesir banyak ulama’nya, padahal pertanyaan itu bisa dijawab dengan niat dan tujuan saya ke Al-Azhar. Kemudian ada satu pertanyaan, dimana saya tidak tahu apa artinya, akhirnya tidak saya jawab.

Dan pada tahun 2018 juga, saya ikut tes UMPTKIN, dan lulus di Fakultas Dirasat Islamiyah wal Arabiyyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, namun saya yakin dengan Al-Azhar Asy-Syarif akan menerimaku, sehingga UIN Jakarta pun saya batalkan. Dan setidaknya saya sudah menginjakkan kaki di gedung Fakultas Dirasat tersebut, karena tes kemenag waktu itu diadakan disana.

          Beriring dengan bergulirnya waktu, hasil ujian kemenag yang selama ini dinanti-nantikan oleh ribuan peserta akhirnya muncul. Dan saat saya membuka file  yang berisikan nama-nama peserta yang lulus, hati ini berguncang hebat, dan ternyata nama saya ada di lembar terakhir.

          Saat itu saya melihat hasil ujian tersebut di dalam kamar, dan tiba-tiba ibu saya lewat dan bertanya. Saya pun menjawabnya, namun raut wajahnya tidak bisa dipungkiri bahwa di dalam hatinya ada rasa sedih karena kami akan berpisah. Karena untuk mendapatkan ridho ibu saya saja, saya butuh bertahun-tahun untuk merayunya agar mengizinkan saya belajar di Al-Azhar, hingga dihari mendekati tes baru diridhoi.

          Kisah ini sering saya ceritakan untuk teman saya, maupun adik kelas. Niat saya adalah agar mereka paham dan tahu, bahwa di dalam usaha itu hendaknya Allah yang kita dahulukan, kemudian Usaha sebagai pendorong, dan bertawakal kepada Allah agar kita mampu menerima apa yang Allah tentukan.

          Dan ada satu hal yang paling membuat saya tersentuh adalah salah satu cermah Ust. Yusuf Mansur, dimana pada ceramah tersebut beliau sampaikan, jika kamu ingin ke madinah, ke mesir atau yang lainnya, jangan ngantri lewat jalur beasiswa karena itu menyakitkan, tapi ngantri lewat jalur tahajud, sholawat, dsb.

          Banyak hikmah yang bisa kita ambil, pertama adalah jangan merasa sombong dengan apa yang kita punya, lihatlah kisah tadi, kurang tinggi apa nilainya?, kurang banyak apa sertifikat kejuarannya?, kurang banyak apa prestasinya?, tapi hal itu semua tidak ada yang bisa meluluskannya masuk ke kampus yang ia dambakan.

          Kedua, Jangan pernah minder dengan kemampuan yang kamu miliki.  Lihatlah, Allah memilihkan Al-Azhar Asy-Syarif sebagai pelabuhan terakhir yang ia dapatkan dengan kemampuan yang apa adanya, namun ia memiliki keyakinan yang kuat dengan Tuhannya.

Ketiga, Dekati Allah lewat jalan yang Allah sukai. Lihatlah, bukankah dengan jalan yang ia pilih dengan menghafal kitab suciNya, kemudian Allah berikan hadiah berupa Al-Azhar Asy-Syarif. Mungkin Allah ingin sampaikan, bahwa hadiah untukmu bukanlah UI ataupun kampus lainnya, namun Al-Azhar Asy-Syarif kiblatnya ilmu islam sepanjang masa itu sebagai hadiah terbaik dan lebih afdhal dari yang lainnya. Dan itulah jalur khusus yang ia masuki hingga Allah membuka jalan menuju Al-Azhar Asy-Syarif.

Keempat, terimalah segala apa yang Allah berikan untukmu, sebab itu adalah yang terbaik, hanya saja kamu tidak tahu apa yang ada dibalik semua itu. Lihatlah, disaat ia banyak ditolak oleh kampus-kampus ternama, tapi ia masih punya keyakinan pada Tuhannya, meskipun terkadang kecewa, tapi tidak sampai larut dalam kekecewaan itu karena Allah Maha Luas RahmatNya.

Kelima, jangan pernah putus asa dari rahmat Allah. Lihatlah, disaat ia terus berusaha, maka disana Allah juga membukakan jalan untuknya.

Keenam, gapailah ridho orang tua. Lihatlah, betapa ia sabar menunggu keridhoan ibunya sampai bertahun-tahun, dan akhirnya Allah meluluhkan hati ibunya.

Mungkin masih banyak yang bisa diambil hikmahnya, namun ingin saya sampaikan bahwa kita manusia memiliki banyak rencana, kewajiban kita adalah usaha, namun Allah punya kuasa, jadi jangan sampai kita meninggikan rencana kita diatas kuasa Allah SWT. Dan jangan lupa untuk berdoa, berlindung kepada Allah sebelum kita melakukan sesuatu kebaikan, barulah kita berusaha, setelah kita serahkan pada yang Maha Kuasa, Allah SWT.

Oleh : Hengki Shalih

Bersambung………

Add Comment

Your email is safe with us.

Sign In Infopelajar.id

or

Account details will be confirmed via email.

Reset Your Password