Falsafah IQRA dalam Buku Membumikan Al-Qur’an

Falsafah IQRA dalam Buku Membumikan Al-Qur’an

Perpektif falsafah dalam wahyu pertama “Iqra”

Sejarah islam tentang Nabi Muhammad SAW pasti menceritakan kronologi wahyu pertama diturunkan yaitu redaksi kata “iqra” ayat pertama dari surat ke-96 Al-Alaq. Sering kali masyarakat muslim mengartikan secara tekstual saja dan jarang dari mereka mau mengetahui esensi dari luasnya arti kata perintah tersebut.

Sebab di Al-Qur’an terjemahan mengartikan sesuai konteks bahasa Indonesia yaitu bacalah. Namun jika dianalisis lebih jauh yang diambil dari kata qara’a bermakna “menghimpun” maka kamus-kamus bahasa mengartikan beraneka-ragam antara lain menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri-cirinya, namun semua arti tersebut bersumber dari “menghimpun”.

Secara logika arti dalam Al-Qu’ran bermakna bacalah tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis untuk dibaca ataupun harus diucapkan sehingga terdengar orang lain. Maka korelasi inilah sangat logis tentang surat ke-29 Al-Ankabut ayat ke-48 berbunyi

“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu Kitab sebelum (Al-Qur’an) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu, sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.”

Sederhananya jika beliau pernah membaca teks dan menulis maka wahyu yang disampaikan bisa subjektifitas semata bukan orsinil dari Tuhan. Tetapi faktanya tidak ada satupun orang sampai saat ini mampu membuat satu ayatpun seperti Al-Qur’an.

Akar kata Qara’a dan pesan urgensi membaca

Jika diamati objek “membaca” pada ayat-ayat Al-Qur’an menyangkut 2 hal mendasar pertama, bacaan yang bersumber dari Tuhan (Al-Qu’ran dan Kitab suci sebelumnya) dalilnya surat ke-10 ayat ke-94 “Maka jika engkau (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang kami turunkan kepadamu maka tanyakanlah kepada orang yang membaca Kitab sebelummu. Sungguh, telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu maka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang yang ragu”.

Redaksi ayat yang bersifat eksplisit adalah kalimat bercetak miring latinnya fas’al laziina yaq’rauna al-kitab min qoblika. Redaksi eksplisit dalam disiplin ilmu tafsir disebut ayat muhkamaat sedangkan yang implisit disebut dengan mutasyabihaat, karena ayat ini termasuk klasifikasi pertama maka secara literatur bisa memahami kontekstual. Hanya saja penerjemahan belum cukup menjelaskan secara detail makna redaksi tersebut, sehingga membutuhkan diskursus lebih mendalam agar bisa mengabstaksikan sesuai zaman yang dinamis ini problematikanya.

Kemudian yang kedua, bacaan yang bersumber bukan dari Tuhan tetapi dari manusia, artinya suatu bacaan tentang amal perbuatan manusia ketika hidup di dunia, dalil redaksi Al-Qur’an secara eksplisit lagi dalam surat ke-17 Al-Isra ayat ke-14 “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu”.

Bagaimana cara mengetahui makna kalimat bercetak miring adalah amal perbuatan manusia? Inilah kehebatan Al-Qur’an yang bersifat koheren berarti sesuai kaedah-kaedah berpikir yang logis jika tidak berarti bukan mu’jizat terbesar Nabi Muhammad SAW. Letak koherensinya bisa berkonsep mengkaitan satu ayat dengan ayat sebelumnya ataupun sesudahnya dalam surat yang sama ataupun surat lainya.

Dalam pembahasan ini QS 17;14 diuraikan dalam surat yang sama ayat sebelumnya QS 17;13

“Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada Hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka”. Redaksi kalimat bukti sistematis dengan ayat selanjutnya “bacalah kitabmu” maka secara logis dan eksplisit terlihat jelas makna ayat tersebut, inilah metodelogi (kaedah) disiplin ilmu tafsir disebut alaqoh baiya ayat wa surah.

Disini, ditemukan juga perbedaan antara implementasi semiotik bahasa antara membaca dengan akar kata qara’a dan membaca dengan akar kata tala-tilawatan. Kata kedua tala-tilawatan memiliki dalil bersifat suci dan mutlak kebenarannya dari surat ke-2 Al-Baqarah ayat ke-252 redaksinya

“Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan kepadamu dengan benar dan engkau (Muhammad) adalah benar-benar seorang Rasul”, maka tilawatan (bacakan) tersebut secara adat arab pun hanya dikhususkan Al-Qur’an sehingga sangat jarang digunakan dalam berdialog sehari-hari.
Sedangkan kata pertama menurut Dr. M. Quraish Shihab, M.A. dalam buku

“Membumikan Al-Qur’an fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan masyarakat” ada suatu kaidah jika suatu kata dalam susunan redaksi yang tidak disebutkan objeknya, maka objek yang dimaksud bersifat umum berarti mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau kata tersebut. sehingga kita harus merefleksi makna qara’a tersebut dalam benak kita agar tidak terjebak dalam kebingungan .

Karena objeknya bersifat umum (universal) maka maknanya mencakup semua bacaan bersifat suci dan bersumber dari Tuhan seperti Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya, bacaan bersumber dari manusia atau himpunan karya manusia seperti kitab hadist shahih Bukhari dalam disiplin ilmu hadist dan lain-lain yang bersifat tertulis (eksplisit), dan bacaan tidak tertulis (implisit) seperti keadaan sosial dalam disiplin ilmu sosiologi. Sehingga menelaah dan meneliti terhadap alam semesta, masyarakat, dan diri sendiripun termasuk dalam makna arti tersebut.

Ayat selanjutnya tentang perintah membaca, menelaah, meneliti, menghimpun dan sebagainya disambung dengan “bi ismi Rabbika” (dengan nama Tuhanmu). Uniknya disinilah ayat landasan ulama dalam kesuksesan menuntut ilmunya yaitu syarat yang menuntut dari si pembaca bukan hanya sekedar membaca dengan ikhlas, tapi juga memilih bahan-bahan bacaan yang tidak mengantarkannya kepada hal-hal yang bertentangan dengan Allah SWT.

Dalam disiplin ilmu ushul fiqh ada satu kaidah “Al-amru lil wujub” yang bermakna suatu perintah merupakan kewajiban, maka metodelogi yang diambil perspektif hukum islam dalam permasalahan memilih bahan-bahan bacaan adalah kewajiban.

Sebagai bukti historis ulama-ulama yang mempuyai spesialisasi disiplin ilmu yang banyak dan puluhan bahkan ratusan buku ditulisnya seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Khawarizmi, Ibnu Batutah, Imam Nawawi Al-Bantani, Imam malik bin anas, Imam Syafii, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Bukhari, Syekh Minangkabau, Buya Hamka, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Muhammad Darwish, Nurcholis Majdid, Muhammad Rasyid Ridha dan lain-lainya mengedepankan bahan-bahan bacaan yang lebih mengantarkan kepada Allah SWT.

Demikianlah Al- Qur’an secara dini menggarisbawahi urgensi “membaca” dan kewajiban wujud keikhlasan serta kepiawaian memilih bahan bacaan yang mengantarkan kepada Ridho Allah SWT.

Tags

Add Comment

Your email is safe with us.

Sign In Infopelajar.id

or

Account details will be confirmed via email.

Reset Your Password